
Ponorogo, 27 November 2025 — Tantangan pendidikan di era digital tidak hanya berkaitan dengan penguasaan teknologi dan capaian akademik, tetapi juga menyangkut pembentukan karakter dan nilai moral peserta didik. Isu tersebut menjadi fokus kajian Fatakhul Huda, M.Pd, dosen Fakultas Dakwah IAIRM Ngabar Ponorogo, dalam partisipasinya sebagai pemakalah pada The 3rd Annual International Conference on Islamic Education (AICIED) 2025 yang diselenggarakan oleh Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK) UIN Kiai Ageng Muhammad Besari Ponorogo secara daring.
Dalam konferensi internasional yang mengusung tema “Islamic Ecotheology and Digital Educational Transformation: Pathways to Excellence in Tarbiyah and Teacher Training for the Realization of Civil Society” tersebut, Fatakhul Huda mempresentasikan artikel berjudul “Integration of Religious Values in School Learning: A Literature Review on Student Character Formation.” Artikel ini merupakan kajian sistematis terhadap berbagai penelitian nasional dan internasional yang membahas peran nilai-nilai religius dalam pembelajaran sekolah dan kontribusinya terhadap pembentukan karakter peserta didik.
Melalui pendekatan literature review, Fatakhul Huda mengungkapkan bahwa pendidikan yang berorientasi pada karakter tidak dapat dilepaskan dari integrasi nilai-nilai keagamaan yang bersifat universal, seperti kejujuran, tanggung jawab, disiplin, empati, toleransi, dan kepedulian sosial. Nilai-nilai tersebut, menurutnya, menjadi fondasi penting dalam membentuk pribadi peserta didik yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga matang secara moral dan spiritual.
Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa integrasi nilai religius dalam pembelajaran tidak bersifat doktrinal atau terbatas pada mata pelajaran agama semata. Nilai-nilai keagamaan justru perlu diinternalisasikan secara kontekstual melalui seluruh mata pelajaran, praktik pedagogik guru, budaya sekolah, serta interaksi sosial di lingkungan pendidikan. Dalam konteks transformasi pendidikan digital, ia juga menekankan pentingnya keteladanan guru dalam menggunakan teknologi secara bijak, etis, dan bertanggung jawab sebagai bagian dari pendidikan karakter.
Kajian yang disampaikan Fatakhul Huda juga menyoroti peran strategis guru dan lembaga pendidikan dalam menghadapi tantangan degradasi moral, individualisme, dan krisis nilai yang kerap menyertai perkembangan teknologi dan globalisasi. Pendidikan berbasis nilai religius dipandang sebagai salah satu solusi penting untuk menjaga keseimbangan antara kemajuan teknologi dan pembentukan karakter peserta didik yang berorientasi pada kemaslahatan sosial.
Partisipasi dosen Fakultas Dakwah IAIRM Ngabar Ponorogo dalam AICIED 2025 ini menunjukkan kontribusi nyata keilmuan dakwah Islam dalam diskursus pendidikan Islam kontemporer di tingkat internasional. Selain memperkaya khazanah akademik, keikutsertaan ini juga menjadi bagian dari upaya institusional IAIRM Ngabar dalam menguatkan budaya riset, publikasi ilmiah, serta pengembangan pendidikan Islam yang berkarakter dan berdaya saing global.
Melalui forum AICIED 2025, Fatakhul Huda berharap bahwa gagasan tentang integrasi nilai religius dalam pembelajaran sekolah dapat menjadi rujukan konseptual bagi para pendidik, pengambil kebijakan, dan peneliti pendidikan dalam merancang sistem pendidikan yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga berkontribusi dalam membangun masyarakat madani yang berlandaskan nilai-nilai keislaman.
