
Malang, 17 Oktober 2025 — Prestasi akademik kembali diraih oleh civitas akademika Institut Agama Islam Riyadlatul Mujahidin (IAIRM) Ngabar Ponorogo. Salah satu dosen Fakultas Dakwah, Syahrudin, M.Pd.I., berhasil meloloskan artikel ilmiahnya dalam forum the 10th International Conference of Islamic Education (ICIED) 2025, sebuah konferensi internasional bergengsi yang mempertemukan akademisi dan peneliti pendidikan Islam dari berbagai negara.
Artikel berjudul “The Phenomenon of Islamic Boarding School Traditions Against Modernity: A Case Study of Lirboyo Islamic Boarding School from the Perspective of Mass Media and Social Media” tersebut dinyatakan lolos seleksi dan dijadwalkan untuk dipresentasikan dalam konferensi yang mengusung tema besar “Impactful Education: Integrating Technology and Ecological Values for a Sustainable Future.” Tema ini menegaskan urgensi pendidikan Islam dalam merespons tantangan modernitas, perkembangan teknologi digital, serta isu keberlanjutan secara holistik.
ICIED 2025 menjadi ruang akademik internasional yang strategis untuk mendiskusikan berbagai isu pendidikan Islam kontemporer, mulai dari transformasi pedagogik, integrasi teknologi, hingga penguatan nilai-nilai ekologis dan sosial dalam sistem pendidikan. Partisipasi dosen IAIRM Ngabar dalam forum ini menunjukkan keterlibatan aktif institusi dalam diskursus global pendidikan Islam.
Dalam artikelnya, Syahrudin mengkaji fenomena tradisi pesantren yang kerap dipersepsikan bertentangan dengan modernitas, dengan mengambil studi kasus Pondok Pesantren Lirboyo sebagai salah satu pesantren besar dan berpengaruh di Indonesia. Kajian ini menjadi penting karena Lirboyo kerap menjadi sorotan media, baik sebagai simbol tradisionalisme Islam maupun sebagai entitas yang terus beradaptasi dengan perubahan zaman.
Melalui pendekatan analisis media massa dan media sosial, Syahrudin mengungkap bagaimana pesantren direpresentasikan dalam ruang publik digital serta bagaimana narasi media membentuk persepsi masyarakat tentang relasi antara pesantren dan modernitas. Penelitian ini menunjukkan bahwa pesantren tidak sepenuhnya menolak modernitas, melainkan melakukan proses seleksi dan adaptasi nilai secara kontekstual demi menjaga identitas, tradisi keilmuan, dan nilai-nilai keislaman yang telah mengakar kuat.
Kajian ini memberikan kontribusi akademik penting dalam memahami dinamika pesantren di era digital, sekaligus memperkaya perspektif tentang dakwah Islam kontemporer yang berlangsung tidak hanya di ruang fisik, tetapi juga di ruang media dan jejaring sosial. Dengan demikian, penelitian ini relevan bagi pengembangan kajian dakwah, pendidikan Islam, dan studi media keislaman.
Keberhasilan Syahrudin dalam menembus forum akademik internasional ini menjadi bukti nyata komitmen dosen IAIRM Ngabar dalam melaksanakan Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya pada bidang penelitian dan publikasi ilmiah bereputasi internasional. Capaian ini sekaligus memperkuat posisi dosen dakwah IAIRM sebagai bagian dari komunitas ilmiah global yang aktif menyumbangkan gagasan dan temuan penelitian.
LP2M IAIRM Ngabar Ponorogo menyampaikan apresiasi atas capaian tersebut dan berharap prestasi ini dapat menjadi inspirasi bagi dosen-dosen lainnya untuk terus mengembangkan riset, meningkatkan kualitas publikasi, serta berpartisipasi dalam forum ilmiah internasional. Upaya ini diharapkan mampu mendorong penguatan reputasi institusi dan pengembangan keilmuan Islam yang adaptif, kritis, dan berkelanjutan di tengah tantangan global.
